X

10 Kunci Meraih Rasa Lapang Dada

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Rasa lapang dada adalah sebuah tujuan yang sangat besar dan mulia, yang mana setiap hamba pasti ingin memilikinya. Bagaimana tidak? Rasa lapang dada adalah salah satu sebab paling utama agar kita selalu mensyukuri semua yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Rasa lapang dada juga merupakan kunci utama agar selalu bersabar. Sabar merupakan pintu kesuksesan kita di kehidupan dunia ini.

Jika Allah Ta’ala telah mengaruniakan rasa lapang dada ini kepada salah satu hamba-Nya, maka itu pertanda bahwasannya Allah Ta’ala telah memudahkan urusannya. Sehingga akan mudah baginya untuk melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta dimungkinkan baginya untuk selalu konsisten di dalam melakukan kebaikan.

Adapun jika Allah Ta’ala menyempitkan hati seorang hamba, maka urusan hamba tersebut akan menjadi kacau balau. Sehingga ia tidak bisa fokus di dalam menjalankan pekerjaannya, dan aktivitas kesehariannya tidak akan mengarah kepada kebaikan, bahkan ia akan selalu merasa khawatir dan sedih.

Makna lapang dada

Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah menyebutkan di dalam karyanya,

“Maksud dari lapang dada adalah rasa puas, rasa tenang, hilangnya rasa tidak nyaman dan masalah dari hati, serta terus menerus merasa bahagia di kehidupan yang mulia dan baik.”

Maka bisa diambil kesimpulan bahwasannya lapang dada adalah sebab terbesar yang dapat menolong seorang hamba di dalam mencapai tujuan dan meraih semua keinginan. Maka ketika Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Musa ‘Alaihissalam untuk pergi menemui Fir’aun dalam rangka mendakwahi dan memberi peringatan kepadanya akan konsekuensi dari kecongkakannya, Nabi Musa ‘Alahissalam mengangkat wajahnya ke langit seraya berdoa,

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

Wahai Rabb-ku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah semua urusanku” (QS. Thaha: 25).

Dan Allah Ta’ala juga berfirman,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah kami telah melapangkan dadamu (wahai Muhammad)?” (QS. Asy-Syarh: 1).

Dari kedua ayat ini bisa kita ketahui bahwa hakikat lapang dada yang sebenarnya adalah yang bersumber dari Allah Ta’ala semata. Itu merupakan karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, orang yang memanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan berpeluang besar mendapatkan hidayah.

Sedangkan orang yang menyia-nyiakan nikmat lapang dada yang Allah Ta’ala berikan, maka akan mudah baginya terjerumus ke dalam kesesatan. Sebagaimana lapangnya dada adalah kenikmatan yang paling utama, maka menyia-nyiakannya adalah seberat-beratnya ujian.

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk meraih rasa lapang dada

Syekh Abdurrazzaq Hafidzhohullah menjelaskan, “Tidaklah mungkin kita memperoleh kedudukan yang agung ini, kecuali dengan memperhatikan agama kita dengan sebenar-benarnya, serta menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Setiap kali seorang hamba bersemangat istikamah menjalankan agama ini, serta berkomitmen dengan apa yang datang dengannya, maka ia layak mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan apa yang dia perbuat.”

Oleh karena itu, seluruh sebab yang akan mengarahkan kita untuk mendapatkan kelapangan dada bermuara pada dua hal yang saling berkaitan, sebagai berikut:

Pertama, lapang dada tidak akan bisa kita raih kecuali dengan taufik atau petunjuk dari Allah Ta’ala, dan pertolongan dari-Nya.

Kedua, pemberian dari Allah ini tidaklah datang kepada seorang hamba, kecuali dengan cara mentaati-Nya dan konsisten di dalam menjalankan syariat-Nya.

Maka kedua hal ini merupakan intisari dari pembahasan lapang dada. Karena sejatinya hati kita berada di tangan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Allah dapat membolak-balik hati kita sesuai kehendak-Nya. Apa yang Allah Ta’ala kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Allah Ta’ala kehendaki tidak akan terjadi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ  ۖ  وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya hidayah, maka Allah akan lapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatan baginya, Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit ” (QS. Al-An’am: 125).

Satu-satunya cara meraih kelapangan dada adalah dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sudah sepantasnya kita hanya meminta kepada-Nya dengan cara yang sesuai syariat dan wahyu dari-Nya. Hal yang bisa dilakukan seorang mukmin untuk meraih kelapangan dada adalah dengan berdoa kepada Allah Ta’ala dan menyandarkan semua urusan hanya kepada-Nya. Kemudian diikuti dengan menjalankan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya untuk meraih tujuan mulia ini. Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah menyebutkan,

أن حال العبد في القبر كحال القلب في الصدر نعيما وعذابا، وسجنا وانطلاقا

“Keadaan seorang hamba di alam kubur itu sebagaimana keadaan hati di dalam dada, baik itu merasakan kenikmatan atau kesengsaraan, rasa terkekang maupun kebebasan.”

Barangsiapa yang dadanya terasa sempit dan sesak karena menjalankan agama ini, begitu pula-lah keadaan kuburnya; akan sempit dan sesak pula. Barangsiapa yang dadanya lapang serta menerima agama ini, maka Allah Ta’ala akan lapangkan kuburnya.

Ciri-ciri hamba yang Allah Ta’ala lapangkan dadanya

Kelapangan dada itu tanda-tandanya sangat jelas, serta nampak pada seorang mukmin dan itu terangkum pada tiga hal.

Pertama, menerima dan meyakini akan adanya akhirat atau alam keabadian.

Kedua, menjauhkan diri atau mencukupkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang fana ini.

Ketiga, menyiapkan diri dari kematian dan kehidupan setelahnya.

Sehingga bila terwujud tiga hal ini di hati seorang hamba, sungguh itu adalah tanda bahwa Allah melapangkan dadanya dan menenangkan hatinya.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata,

… كما في الأثر المشهور: إذا دخل النور القلب انفسح وانشرح، قيل : ومت علامة ذلك ؟ قال: التجافي عن دار الغرور، والإنابة إلى دار الخلود، والإستعداد للموت قبل نزوله

“Disebutkan di dalam sebuah atsar yang terkenal, bilamana cahaya masuk ke dalam hati, maka hati tersebut akan merasa lapang dan menerima. Dikatakan kepadanya, ‘Apa tandanya?’ Dijawab, ‘(1) Mencukupkan diri dari dunia yang penuh tipuan; (2) condong kepada kehidupan abadi (akhirat); dan (3) menyiapkan diri menghadapi kematian sebelum kematian itu mendatanganinya.’”

Sepuluh sebab yang dianjurkan syariat untuk meraih lapang dada

Pertama, mengesakan Allah Ta’ala dan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya.

Kedua, cahaya yang Allah Ta’ala karuniakan ke dalam hati hamba-Nya.

Ketiga, menuntut ilmu yang bermanfaat.

Keempat, kembali kepada Allah Ta’ala dan menghadap kepada-Nya dengan sebaik-baik kondisi.

Kelima, konsisten di dalam berzikir (mengingat Allah Ta’ala).

Keenam, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah Ta’ala.

Ketujuh, keberanian dan kuatnya hati.

Kedelapan, menjauhkan diri dari penyakit-penyakit hati dan racun-racunnya.

Kesembilan, meninggalkan berlebih-lebihan di dalam semua aspek kehidupan.

Kesepuluh, mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya.

[Bersambung]

***

Penulis: Muhammad Idris

Daftar Pustaka:

Bersumber dari Asyartu Asbabin Linsyirahi As-sadr (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah dengan beberapa perubahan.

Sumber: Artikel: Muslim.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.